Diduga Pekerjaan Hotmix Tidak Sesuai Spek Warga Buntal Minta Jaksa Periksa PPK Dan Direktur PT.BCTC

Warga Buntal desa Gololijun Kecamatan Elar Kabupaten Manggarai Timur, akhirnya membantah pernyataan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek hotmix ruas Pota –Waikulambu, Filipus Dere. Sebelumnya dibeberapa media lokal, PPK proyek ruas Pota –Waikelambu pada Dinas pekerjaan Umum Dan Perumahaan Rakyat (PUPR, red,-) Propinsi NTT, Ipu Dere membantah jika proyek yang dikerjakan oleh PT. Bina Citra Teknik Cahaya pimpinan Heng Kosmas itu, pekerjaan HRD base sepanjang 1 km ketebalan dan kwalitas nya tidak sesuai spesifikasi teknis.

Kepada tim media ini, Fransiskus Lambuk warga Buntal desa Gololijun akhirnya meminta aparat penegak hukum (APH) di NTT khususnya Kejaksaan Negeri setempat dan Gubernur NTT untuk bisa turun ke lokasi proyek Pota – Waikelambu guna memastikan kwalitas aspal yang dikerjakan oleh PT. BCTC itu.

Permintaan warga itu semata-mata ingin membuktikan betapa buruk dan tipisnya hotmix hasil pekerjaan PT. BCTC itu, Frans pun mencoba mencungkil aspal tersebut menggunakan jari telunjuknya. Alhasil, sebagian aspalnya pun terbongkar remuk.

Sementara pada lapisan dasarnya terlihat begitu jelas tanah dan debu serta batu bulat bercampur abu yang memang tidak melengket dengan aspal yang telah dihampar.

Selain mencungkil aspal tersebut, Frans pun menunjukan kepada tim media ini, aspal yang telah berlubang. Lubangnya aspal itu setelah warga setempat memarkir kendaraan roda dua mereka menggunakan standart dua.

“Pak lihat sendiri, ini aspalnya tipis dan dibawah ini banyak batu bulat dan tanah, kita parkir motor pakai standar dua saja, permukaan aspalnya langsung lubang dan pecah“ tandasnya sambil menujukan sekitar belasan titik aspal yang pecah.

Keterangan Foto : Hasil Investigasi Tim

Dirinya menegaskan pekerjaan aspal yang dikerjakan oleh PT. BCTC sepanjang 1 km ini benar-benar tidak mengunakan agregat, tetapi lapisan dasarnya mau dibilang lapen juga salah.

“Ya memang pihak PT. BCTC mengambil material berupa tanah cadas diatas situ, kemudian dicampur dengan batu kali/batu bulat yang diambil dari kali Buntal sebagai pengganti agregat. Saya pastikan tidak ada agregat, tetapi sirtu gunung yang diambil dari lereng-lereng bukit lalu digunakan sebagai pondasi badan jalan (yang dilebarkan)“ paparnya sambil menunjukan beberapa bukit bekas galian untuk pengambilan material.

Menurut Frans, pihak PT. BCTC mengambil batu kali/batu bulat juga pasir tersebut dari sepanjang bantaran kali Buntal. Material-material itu kemudian digunakan sebagai urpil pada pekerjaan hotmix tersebut. Pengambilan material dibantaran kali itu kata Frans, telah mendapat izin dari tuan tanah sebagai pemilik lahan.

“Selama kerja hotmix ini, saya disini terus pak, jadi tidak ada agregat yang mereka gunakan, kalau pihak pengawas dan PPK mengatakan bahwa ada agregatnya, kenapa kondisi aspalnya bisa kita cungkil dengan jari dan langsung pecah bahkan permukaan aspalnya yang awalnya seperti punggung kerbau namun saat ini berubah dan sudah rata semua ?. Kalau ada agregat nya, maka kualitas jalannya sama seperti hasil pekerjaan PT. Wijaya itu pak“ tandasnya sambil menunjuk batu kali/batu bulat yang berada di bibir aspal.

Keterangan Foto : Istimewa

Sementara itu, warga lain yang meminta agar namanya tidak dipublikasikan menyanyangkan proyek Pekerjaan Hotmix Ruas Pota – Waiklambu yang dikerjakan oleh PT. Bina Citra Teknik Cahaya (BCTC, red,-) tahun anggaran 2020 akhirnya harus menyisakan masalah. Sambil menggeleng-geleng kepala, dirinya menegaskan proyek yang dikerjakan oleh PT. Bina Citra Teknik Cahaya yang menghabiskan anggaran miliaran rupiah itu diduga jauh menyimpang dan tidak sesuai dengan spesifikasi teknis dan RAB yang ada.

“Tolong sampaikan kepada bapak Gubernur NTT, Viktor Laiskodat, proyek dengan anggaran begitu besar untuk kami masyarakat kecamatan Elar, namun ironisnya mengapa hasilnya seperti ini, ini karena kelalaian dari Staf nya bapak Gubenur sendiri dalam melakukan pengawasan di lapangan “ tandasnya

Pekerjaan tersebut menurut beliau tetap dibiarkan berjalan oleh pengawas konsultan dan Pejabat Pembuat komitemnya (PPK) Dinas PUPR Propinsi NTT, sampai dengan terbayarnya termin pekerjaan kepada PT. BCTC sebagai kontraktor pelaksana.

Dirinya meminta kepada PPK (Pejabat Pembuat Komitmen ) selaku KPA (Kuasa Pengguna Anggaran) pada Dinas PUPR Propinsi NTT yang paling bertanggung jawab atas dugaan penyimpangan pekerjaan itu karena pekerjaan hotmix yang dikerjakan oleh PT. BCTC terkesan asal-asalan.

Menurutnya,kurangnya pengawasan pekerjaan dari Dinas PUPR Propinsi NTT terutama dari PPK sehingga pihak PT. BCTC begitu leluasanya mengambil material batu kali / batu bulat bercampur pasir dari kali Buntal sebagai pengganti agregat secara ilegal, tanpa ada monitoring atau teguran dari PPK.

Longgarnya pengawasan tersebut diduga ada sebuah konspirasi antara pajabat dan pihak BCTC, sehingga pekerjaan tersebut tetap berjalan sampai selesai meskipun material yang digunakan tidak sesuai spesifikasi dan diambil dari tambang secara ilegal / tanpa ada izin dari dinas terkait .

“Ini namanya korupsi berjemaah pak, membiarkan perusahaan ini mengerjakan tidak sesuai spesifikasi dan mengambil material secara ilegal, ini sama halya PT. BCTC merampok uang negara dan diamini oleh Dinas PUPR setempat, “ paparnya. (Tim-RF)

 

slot ||
slot88 ||
Server Thailand ||
Slot Gacor Maxwin ||
Slot gacor ||
slot online||
Slots ||
SBOBET||
game slot
daftar slot ||
slot game||
poker online
slot thailand||
game slot online||
situs slot||
slot gacor online||
situs slot terbaru||
slot terbaru||
idn slot||
slot gratis||
https://voiceofserbia.org||
https://tibetwrites.org/||