Mengenal Dua Musisi “Paul dan Luis”, Siapa Mereka?

Mereka adalah Dua Putra Ende- Lio, yang Dibaptis dengan nama nasrani, ‘Yohanes Paulus Hanny Wadhi dan Aloysius Gonzaga Thomas Ire’. Mereka berdua, Paul dan Luis, dibekali dengan segudang talenta oleh ‘Maha Kuasa’ menjadi musisi untuk menyulam karya di dunia musik Pop Daerah Ende – Lio.

Paul (43), merupakan buah cinta dari Bapak Yohanes Hanny Wadhi (Alm) dan Ibunda Sabina Deno. Sementara, Luis (35), merupakan buah cinta dari Bapak Thomas Ire (Alm) dan Ibunda Efi Manafe (Alm). Dua musisi ini, punya tekad besar mengangkat pamor musik Pop Daerah Ende Lio di pasar digital internasional.

Dorongan motivasi untuk melahirkan banyak karya lagu ber-genre musik Pop Daerah telah menjadi hasrat cita – cita untuk memposisikan musik Pop Daerah naik level di pasar digital tanah air,ungkap Paul dan Luis saat dihubungi Ritmeflores.com melalui sambungan Zoom, Kamis, 30 September 2021.

Bagi mereka, dikenal menjadi musisi di level daerah bukan soal seberapa banyak duit yang mereka hasilkan dari karya itu, melainkan soal seberapa banyak karya yang dilahirkan untuk dikenang sebagai pencipta lagu dan pemusik.

Karena, menurut mereka, mencintai dunia seni musik dan tarik suara adalah panggilan jiwa. Apalagi, mampu menciptakan syair lagu dan merangkai musik dengan nada dan irama khas Ende – Lio, hal itu merupakan kepuasan istimewa dalam jiwa dua musisi yang lahir di tanah Ende Lio Sare Pawe.

Kupas Kisah Paul dan Luis

Paul Hanny Wadhi menceritakan, jatuh cinta dengan dunia musik, berawal sejak Ia berada di bangku Sekolah Dasar (SD) tahun 1986. Dengan alat musik yang dikenalinya saat itu, adalah Gitar. “Mulai dari situ pula, saya mulai menekuni bermain gitar”, tutur Paul.

Di era 1986 kala itu, Paul mengungkapkan bahwa lagu yang paling diminati adalah lagu Michael Jackson berjudul Black Or White. Karena, saking cinta terhadap lagu itu, dirinya termotivasi untuk menguasai teknik bermain gitar sampai bersatu dengan jiwanya.

“Ya, dengan hadirnya gitar menjadi alat musik pertama dan lagu Michael Jackson berjudul Black Or White, kala itu, menjadi lagu pertama yang berhasil menikahi naluri saya untuk mampu melahirkan karya lagu sendiri dengan paduan genre musik khas Pop Daerah Ende – Lio, seperti sekarang ini”, terang Paul.

Memasuki era 2000 – an, Paul mulai mengembangkan karya dengan menciptakan sebelas (11) lagu. Tahun 2004, lagu pertama yang Ia cipta, yaitu berjudul “Indahnya Bagai Lukisan Alam”. Namun pahitnya, lagu ini gagal tembus dapur rekaman.

Merangsek hingga akhir tahun 2021, Paul Hanny Wadhi mengeluarkan single lagu terbaru berjudul “Lina Ana Eda”. Di platform digital,tidak hanya lagu lina Ana Eda, 11 lagu pun tembus dijual dalam pasar musik digital ini, katanya.

Single lagu Lina Ana Eda, dalam cerita Paul diambil dari kisah nyata kehidupan para perempuan Ende-Lio yang sedang mengenyam pendidikan di tanah rantau.

Pesan yang tersirat dalam lagu itu adalah teruntuk para perempuan ata ende lio, yang dipersonifikasikan sebagai Lina Ana Eda atau Lina Anak Om ini, harus selalu ingat pesan dan nasehat orang tua agar tidak jatuh dalam jurang cinta yang bisa menggagalkan niat untuk kuliah dengan baik dan selesai tepat waktu. Karena, menurutnya, keperihan yang paling purna adalah melawan petuah orang tua.

“Jadi untuk diketahui, lagu Lina Ana Eda atau Lina Anak Om, merupakan kolaborasi kami Paul Hanny Wadhi (Penyanyi/Pencipta lagu) dan Aloysius Gonzaga Tomas Ire (Arranger), yang kami kerjakan secara virtual karena terpisah jarak, saya di Bali dan Luis di Surabaya” tegas Paul.

Keterangan Foto : Kolaborasi Apik Dua Musisi Asal Kabupaten Ende, Yohanes Paulus Hanny Wadhi dan Aloysius Gonzaga Thomas Ire. Kamis, 30 September 2021

Sementara, Luis Ire menceritakan bahwa, awal jatuh cinta dengan musik, yakni dari umur 5 tahun. Karena, sejak dalam genggaman pembinaan orang tua kala itu, indera pendengaran-nya selalu disuguhkan dengan lagu – lagu legendaris dunia yang dibuka oleh kedua orang tuanya.

Dia mengungkapkan, lagu – lagu legendaris yang selalu hadir di pendengarannya, dan sudah dia nikmati sejak usianya masih balita.

“Ya di rumah, dari kecil, bapa dan mama sudah kasih dengar musik yang bagus – bagus. Lagu – lagu seperti ABBA, Beatles, Elvis Presley, Bee Gees, Carpenters, Koes Plus, Franky & Jane, Ebieth G. Ade, dan lainnya saya sudah dengar dari SD”, ungkap Luis Ire.

Terhitung sejak usia 5 tahun itu, Luis Ire mulai memainkan Gitar. Bahkan saking cintanya dengan Gitar, dirinya berusaha mempelajari permainan gitar dari seluruh gitaris kenamaan yang ada di Ende pada waktu itu.

Alhasil, berkat talenta dalam bermain gitar, Luis Ire mampu melahirkan karya – karya brilian. Awal pertama, dirinya menciptakan lagu tahun 2007 berjudul Hymne Sang Dewi. Lagu itu, menceritakan tentang kisah pilu kepergian ibundanya, Almarhum Efi Manafe.

“Tahun 2007, lagu pertama yang saya cipta berjudul Hymne Sang Dewi. Ditulis persis setelah saya punya mama meninggal, lagu itu untuk Almarhum mama”, kata Luis Ire.

Namun, Luis Ire harus menelan pahit yang sama seperti Paul Hanny Wadhi, bahwa lagu pertamanya, yang berjudul Hymne Sang Dewi tidak sempat direkam dan dirilis secara baik.

Pasca itu, meskipun sempat gagal, Luis Ire tidak pupus semangat, karena dari tahun 2007, Ia bahkan mencipta puluhan lagu dengan akord, nada dan irama yang berbeda.

Hingga, dari sekian banyak karya lagu, ada satu karya lagu berjudul Satukan Kami Putera – PutrriMu berhasil menjuarai perlombaan cipta lagu tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh RRI pada tahun 2013.

“Awal saya bikin lagu dari 2007, tapi tidak pernah berani saya publish. Saya baru serius bikin lagu dan diproduksi lalu dirilis dengan baik setelah saya punya lagu jadi juara 1 lomba cipta lagu tingkat nasional di RRI , finalnya di makasar tahun 2013”, ungkap Luis.

Ia mengakui bahwa, dirinya sudah menciptakan sebanyak 50 an lagu, namun belum semuanya diproduksi dan dirilis secara resmi.

“Ada lebih dari 50 lagu yang saya tulis, tapi yang sudah diproduksi dan dirilis baru 37 lagu. Itu termasuk lagu – lagu pada Band saya, FIOROLA. Selain itu, sisanya belum direkam dan dibangun aransemennya. Karena, bentuknya masih sebatas lirik dan lagu dengan iringan musik dasar saja”, tutupnya.

slot ||
slot88 ||
Server Thailand ||
Slot Gacor Maxwin ||
Slot gacor ||
slot online||
Slots ||
SBOBET||
game slot
daftar slot ||
slot game||
poker online
slot thailand||
game slot online||
situs slot||
slot gacor online||
situs slot terbaru||
slot terbaru||
idn slot||
slot gratis||
https://voiceofserbia.org||
https://tibetwrites.org/||