Asal Mencomot Foto Tanpa Izin Karya Fotografi Atau Pemotret, Eddy Due Woi Tegaskan Bakalan Terjerat Undang – Undang Hak Cipta

Menguaknya pencomotan foto tanpa melalui izinan karya pemotret, fotografer atau pun wartawan maupun wartawati di Indonesia umumnya dan, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) khususnya, layak dibilang sudah menjadi kebiasaan usang yang kebal hukum Hak Cipta.

Melihat kebiasaan usang mengenai pencomotan karya foto tersebut, mendapat tanggaban serius dari salah seorang Fotografer senior asal flores bernama Eddy Due Woi, ketika diwawancarai Ritmeflores.com melalui pesan Whatsapp. Jumad, 3.Juni 2022

Menurutnya, hasil atau karya foto masuk dalam kategori kekayaan intelektual atau Hak Cipta yang dilindungi oleh Undang – Undang. Karena berdasarkan Pasal 1 angka 1 Undang – Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta (“UU Hak Cipta”).

Maka pengertian Hak Cipta adalah Hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa mengurangi pembatasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Eddy menegaskan perlu diketahui bahwa baik karya fotografi maupun potret adalah ciptaan yang dilindungi hak cipta sebagaimana disebutkan dalam Pasal 40 ayat (1) huruf k dan huruf l dalam UU Hak Cipta.

Karena, yang dimaksud dengan “karya fotografi” meliputi semua foto yang dihasilkan dengan menggunakan kamera. Untuk itu secara etika, menggunakan foto orang wajib ada izinnya. Terang fotografer senior asal flores

“Minimal wajib menyampaikan secara pribadi dan apabila ada nilai komersilnya, maka sangat etis kalau pemilik foto mendapatkan biaya dari jasa untuk foto yang digunakan. Kecuali pemilik foto mendonasikan foto miliknya untuk kepentingan komersil atau adanya kesepakatan bersama terkait Hal tersebut”, kata Eddy

Namun, disisi lain, Eddy mengakui bahwa semakin banyaknya pengguna internet atau netizen menyulitkan kita untuk mendeteksi apakah foto kita digunakan secara ilegal, maka penggunaan watermark adalah salah satu cara untuk melindungi foto kita.

“Walaupun tetap tidak efektif, minimal bisa jadi semacam ‘tanda’ kalau Itu adalah foto Kita. Orang lain di tempat lain, yang tahu watermark Kita bisa menyampaikan kepada Kita jika foto Kita digunakan oleh orang lain untuk kepentingan komersil”. Ujarnya

Menurutnya untuk sosial media, dirinya berusaha melihat dari sisi yang lebih sederhana. Apabila kita sudah posting foto. Itu sama saja Kita sudah bagikan foto Kita ke semua pengguna sosial media yang terhubung dengan Kita.

“Untuk saya sendiri apa yang saya post di sosial media, saya anggap bahwa saya sudah share, tapi itu berlaku untuk kepentingan sosial media saja yang lebih bersifat promotif. Bebas untuk share.

Sementara, kecuali foto tersebut di download Dan digunakan untuk hal – hal komersil seperti berita, baliho atau buku, singkatnya untuk kepentingan bisnis pribadi dengan tanpa pemberitahuan kepada pemiliknya, maka Undang – Undang Hak Cipta bisa dipakai untuk menjerat pengguna foto tersebut secara hukum.

Melihat sikap masa bodoh para pencomot karya fotografi dan pemotret di Nusa Tenggara Timur yang kian menguak, Ia berharap kiranya sebelum menggunakan karya foto milik orang lain, hendaknya harus seizin fotografer dan pemotret.

Karena, apabila tidak seizin pencipta karya maka sangat tidak etis dan tidak beretika jika tidak disertai dengan nama fotografer dan pemotret yang sebetulnya hasil foto yang kita comot adalah hak cipta mereka.

 

slot ||
slot88 ||
Server Thailand ||
Slot Gacor Maxwin ||
Slot gacor ||
slot online||
Slots ||
SBOBET||
game slot
daftar slot ||
slot game||
poker online
slot thailand||
game slot online||
situs slot||
slot gacor online||
situs slot terbaru||
slot terbaru||
idn slot||
slot gratis||
https://voiceofserbia.org||
https://tibetwrites.org/||