Demi Wujudkan Impian, Antonius Rela Tidur Ditengah Hutan Belantara (2)

Demi mewujudkan impian membangun rumah adat, seorang tua adat dari Suku Woe Ebu Wedho, Antonius Apu rela menghabiskan waktunya untuk tidur ditengah hutan belantara Mbay, Kabupaten Nagekeo, Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Meskipun demikian, Antonius Apu tak patah semangat untuk menjadikan hutan sebagai bank perabot kebutuhan untuk mendapatkan 12 tiang dari kayu nara. Beserta 200 batang balok dari pohon koli.

Namun sebagai putra yang lahir dari rahim orang tua petani, bertualang dari hutan malawaka ke hutan malapera bagi pria paruh baya, Antonius Apu, bahwa kebiasaan itu sudah makan garam.

Dimana, Antonius Apu telah terbiasa berdamai dengan hutan karena dirinya juga adalah anak hutan yang tidak patah arang untuk berjuang demi mempertahakan adat isti adat di kampung Rendu Lari khusus suku Woe Ebu Wedho.

Kamis, 6 Oktober 2022, Antonius Apu mengatakan setelah dirinya bersama keluarga besar rendu lari memilih tidur di tengah hutan, agar proses persiapan pembangunan dapat berjalan sesuai harapan.

“Karena kalau saya dan keluarga tidak tidur ditengah hutan maka saya yakin renacana pembangunan rumah adat suku woe ebu wedho akan terus terhambat. Jadi saya dan keluar ga memilih tidur dihutan, agar pesiapan bahan bisa sampai rampung dan final”, kata Antonius

Setelah persiapan tiang dari kayu nara dan balok dari pohon koli. Pihaknya bergegas mengangkut 2 (dua bahan tersebut untuk dibawa ke kampung adat Rendu Lari.

Antonius Susuri Hutan Ebulobo

Kendati begitu, segelah dua jenis bahan itu diangkut, dirinya lekas mempersiapkan bahan lain, salah satu bahan adalah persiapan kebutuhan papan yang didapainya dari jenis kayu bernama wuwu.

Papan tersebut dibutuhkan sebanyak 100 lebih lembar untuk rumah adat. Sebagian papan akan digunakan untuk menggambar ana deonya.

Keterangan Foto : Ritual Adat Suku Woe Ebu Wedho. Kamis, 6 Oktober 2022

“Gambar Ana deo itu, sebelahnya diukir serupa sosok laki – laki telanjang dan sebelahnya lagi diukir serupa perempuan telanjang. Kedua gambar patung telanjang yang diukir itu, sama – sama telanjang”, terang

Namun setelah pengumpulan bahan berjenis papan dari kayu wuwu tersebut, mereka melakukan perjalanan menuju hutan yang berada di kaki gunung berapi Ebulobo, Nagekeo untuk mencari Bambu jenis bheto.

Selama pengumpulan bahan jenis bambu bheto, memakan waktu kurang lebih sekitar 1 minggu lebih, Bapak Antonius Apu bersama kelaurga lainnya tidur di hutan dibawah kaki gunung Ebulobo, Nagekeo.

Ia menerangkan, Bambu jenis bheto itu dibutuhkan sebanyak 200 lebih bambu untuk memenuhi kebutuhan pelupu dan bengkawang atau kerangka atap rumah adat suku Woe Ebu Wedho.

“Setelah papan dan bambu dipersiapkan, saya berdiskusi dengan kaka tetua adat lainnya, kira- kira kapan kita angkut bahan – bahan tersebut. Karena mengingat semua bahan itu, masih berada di hutan” kisah Antonius

Namun setelah disepakati untuk diangkut secara gotong royong bersama kelaurga dan setiap ulu manu atau sebagai pemangku adat di kampung sini, bersama warga kampung disini berbondong – bondong mengangkut bahan tersebut.

Setelah bahan – bahan diangkut dari sejumlah hutan, ia mengatakan, bahan yang diangkut tersebut, diletakan tepat di pintu masuk kampung adat rendu lari. Tukas Antonius – Bersambung

 

slot ||
slot88 ||
Server Thailand ||
Slot Gacor Maxwin ||
Slot gacor ||
slot online||
Slots ||
SBOBET||
game slot
daftar slot ||
slot game||
poker online
slot thailand||
game slot online||
situs slot||
slot gacor online||
situs slot terbaru||
slot terbaru||
idn slot||
slot gratis||
https://voiceofserbia.org||
https://tibetwrites.org/||