NEWS  

Mengupas Kisah Haru Antonius, Bangun Rumah Adat Suku Woe Ebu Wedho (1)

Dalam tradisi adat flores, rumah adat merupakan simbol yang menegaskan keberadaan setiap suku yang diyakini masyarakat budaya flores sebagai tempat bernaung para leluhur, yang sakralis.

Mengingat rumah adat merupakan pengakuan biologis yang sakralis terhadap keberadaan dari setiap suku yang berada di pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur, terkhusus di wilayah Kabupaten Nagekeo.

Begitu juga dengan Suku Woe Ebu Wedho merupakan suku tertua yang berada di kampung adat Rendu Lari, Kecamatan Aesesa Selatan, Kabupaten Nagekeo, itu.

Kamis, 6 Okrober 2022, Panas matahari menguliti raga. Kurang lebih sekitar 107,0 Kilometer. Bersama Ibu Beata dan Bung tomy, kami bertiga, melakukan perjalanan menuju kampung adat Rendu Lari, Kabupaten Nagekeo.

Maksud dari keberangkatan itu, untuk meliput upacara adat di kampung adat tersebut yakni pembangunan sebuah rumah adat dari suku Woe Ebu Wedho, yang tengah dilaksanakan di kampung adat tersebut.

Diperkirakan sekitar 4 jam, kami tiba di kampung Rendu Lari. Bareng teman sesama profesi, kami diarak Ibu Beata masuk kedalam gubuk kecil yang dijelma dadakan, menjadi rumah adat, suku Woe Ebu Wedho.

Bermodalkan menu tradisional, khas rendu lari, yaitu kopi dan teh panas menjadi hidangan favorit untuk mengawali pertemuan, perkenalan dan percakapan bersama para tetua adat di kampung rendu lari.

Sembari menikmati hidangan kopi dan teh panas, ditengah rintik hujan, siang itu, Kepala Suku Woe Ebu Wedho, Antonius Apu mulai bercerita tentang awal mula persiapan pembangunan rumah adat suku Woe Ebu Wedho.

Jarih Payah Antonius Apu

Diceritakannya, kurang lebih 2 bulan lamanya, Antonius Apu bersama rombongan menelusuri setiap hutan hanya untuk mengumpul sejumlah bahan – bahan untuk membangun rumah adat suku Woe Ebu Wedho.

Dimana awal pengumpulan bahan, dimulai pertengahan bulan juni. Bahan pertama yang dikumpulkan adalah kayu nara untuk dijadikan sebagai tiang rumah adat.

Kayu nara untuk digunakan sebagai tiang rumah adat, diburuhkan sebanyak 12 tiang. Tapu untuk mendapatkan tiang tersebut, mereka harus mencari hingga menyusuri hutan belantara di Nagekeo.

Meski berada di hutan yang dikenal sebagau keli atau bukit yang berada cukup jauh disebelah kiri kampung adat rendu lari, aesesa selatan, kabupaten Nagekeo.

Namun, untuk mencapai 12 tiang, bukan sesuatu yang mudah, karena harus memakan waktu, kurang lebih selama 2 (dua) minggu lamanya untuk mencapai 12 tiang.

“Kayu itu kami cari sampai di keli (bukit) sebelah kiri dari kampung adat Rendu lari. Dalam perisapan itu, waktu yang dibutuhkan kurang lebih selama 2 (dua) minggu, baru kelar” kata Antonius

Setelah 12 tiang terkumpul. Mereka bergegas menyiapkan balok yang diambil dari pohon koli. Karena memang jenis kayu nara dan balok koli adalah perabot yang dipakai sejak zaman para leluhur dulu.

“Jadi balok yang diambil dari pohon koli, dibutuhkan sebanyak 200 batang koli. Untuk mencapai target tersebut, dikerjakan kurang lebih 3 (tiga) minggu”, ujar Antonius

Untuk medapatkan koli, mereka harus mencari di hutan yang berada di malawaka arah mbay. Namun karena pohon koli tidak mencukupi, kami cari sampai di hutan malapera di sebelah kamoung wisata.

“Dalam pencarian pohon koli untuk dipersiapakan sebagai balok rumah adat itu, 2 (dua) minggu di hutan malawaka dan 1 (satu) minggu di hutan malapera”, terang Antonius – bersambung

 

slot ||
slot88 ||
Server Thailand ||
Slot Gacor Maxwin ||
Slot gacor ||
slot online||
Slots ||
SBOBET||
game slot
daftar slot ||
slot game||
poker online
slot thailand||
game slot online||
situs slot||
slot gacor online||
situs slot terbaru||
slot terbaru||
idn slot||
slot gratis||
https://voiceofserbia.org||
https://tibetwrites.org/||