“Bibit Tak Bertunas”, Turnamen Bupati Cup Tanpa Golkan Nasib Atlet

Gelaran turnamen sepak bola Bupati Ende Cup dinilai sebuah ajang menghabiskan uang rakyat. Dimana, Pemkab Ende lewat Koni dan Askap Ende tidak tanggung – tanggung gelontorkan anggaran fantastis dari kantong dana APBD hanya untuk membiaya pesta pora bola kaki.

Penggelontoran anggaran tersebut bersembunyi dibalik alasan klasik yang sudah lama expired didengungkan Pemerintah Kabupaten Ende melalui Koni dan Askap Ende beranggaban bahwa turnamennitu dijadikan sebagai ajang pencarian bibit pesepak bola itu, kembali memantik sorotan dari GMNI Cabang Ende

Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia (GMNI) Cabang Ende, menyoroti terkait penyelenggaraan turnamen Bupati Cup yang dicetuskan Pemerintah Kabupaten Ende lewat Askab Ende hanya untuk menghabiskan uang rakyat, tutur Ketua GMNI Ende, Yanto Woda

Mengingat tahun ini, pasca piala Soeratin Cup digelar di Kabupaten Ende, hingga mengikuti iven turnamen ETMC di Lembata sampai Bupati Cup, Pemerintah Kabupaten Ende begitu kebut – kebutnya menggelontorkan dana hanya untuk pesta pora bola kaki tanpa memikirkan nasib para atlet.

Hal tersebut, menurut Yanto Woda, alasan klasik yang laris manis mendarat dibibir Pemerintah, Koni dan Askap Ende mengumbar, Turnamen sepak Bola sebagai ajang penggalangan bibit muda pesepak bola ende hingga kini, tidak pernah bertunas.

Bibit Tak Bertunas

Pasalnya begitu banyak eks mantan pemain pesepak bola Perse Ende, soal nasib sebagian besar para atlet belum menentu. Maka Yanto Woda mendesak pihak Koni, Askap dan Pemerintah Kabupaten Ende secara hirarki segera mengehentikan turnamen sepak bola. Karena turnamen terselenggara, bikin tambah persoalan baru.

Persoalan baru, menurut Yanto hanya sekedar mencari bibit pesepak bola namun dilepas setelah tunjuk kualitas berlaga di lapangan hijau. Karena, habis turnamen, nasib dari para pemain bola, tidak dipikirkan oleh Pemerintah.

“Kasihan para atlet. Bibit muda tapi tak bertunas. Ya tidak bertunas karena, nasib atlet tidak menentu. Itulah soal yang bikin tambah masalah. Sebaiknya sehabis piala Buapti Cup, turnamen stop sudah. Karena masih ada banyak masalah lain seperti pembanguann fisik maupun tipe non fisik yang harus jadi prioritas dibangun pemerintah”, ujar Yanto

Selain itu, yanto woda menyoroti menyangkut target dari turnamen Buapti Ende Cup, sebenarnya, apa golnya. Karena, dari dulu sampai sekarang bibit yang dituai dalam turnamen sejak era Anis Pake Pani sampai Djafar Erik Rede sama sekali belum bertunas.

Karena memang nasib para pemain, mulai dari angkatan legendaris Perse Ende era tahun 70 an hingga dengan era 2020 – an hanya sebatas menerima hadiah penghargaan berupa uang dan piala, namun nasib mereka tidak menentu.

“Soal nasib yang tidak menentu, itu yang kita sayangkan. Dari pada buat turnamen lalu galang bibit pemain tapi tidak bertunas. Nasib tidak menentu, sebaiknya, alasan macam itu, cukup sudah”, tutur Yanto

Selain itu, Ketua GMNI Cabang Ende menyinggung, tmengenai dana turnamen sebaiknya digelorkan untuk membiayai infrastruktur jalan dalam kota maupun desa. Karena sampai saat ini, membutuhkan perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Ende

“Ketimbang dana APBD digunakan untuk turnamen sebaiknya gunakan saja untuk membiayai pembangunan infrastruktur, dalam kota misalkan jalan nenas, samping kantor buapti, dan jalan di Samratulngi. Itu jauh lebih efektif dari pada buat turnamen yangbhanya hura – hura”, Ungkap Yanto Woda

Jawaban Bupati Djafar

Sementara dalam pemberitaan sebelumnya yang dirilis Ritmeflores.com mengenai jawaban Bupati Ende, mengenai nasib atlet pesepak bola, Bupati Djafar Achmad dalam keterangan pers diruang rapat Kantor Bupati Ende, senin, 17 Oktober 2022, mengaku, bingung, karena hingga kini, dirinya, masih memikirkan nasib mereka, para atlet.

Keterangan Foto : Bupati Ende, Djafar Achmad saat memberikan keterangan pers diruangan Kantor Bupati Ende menjelang laga pembukaan turnamen Bupati Cup. Senin, 17 Oktober 2022

“Soal nasib atlet. Saya juga bingun. Saya masih memikirkan hal ini. Apakah, diberikan modal usaha atau seperti apa kedepan. Kita masih pikirkan”, ujar Pak Djafar Achmad sembari mengerut jidatnya, saat menjawab pertanyaan Ritmeflores.com

Menurutnya, kalau mendorong para atlet pesepak bola untuk bekerja di kantor atau instansi pemerintah, namun undang – undang (UU) terbaru, sudah tidak memungkinkan lagi tenaga kontrak untuk bekerja di kantor Pemerintah.

“Sudah tidak bisa lagi untuk mempekerjakan mereka di instansi pemerintah. Karena regulasi tidak mungkin lagi. Tapi kalau kami, pemerintah dorong para atlet pesepak bola melalui usaha pasti bisa”, tukas Djafar Achmad

Sementara, hingga berita ditunkan, Ketua Koni dan Askap Ende belum sempat diwawancarai Ritmeflores.com. sudah whatsapp dan telepon beberapa kali, namun enggan untuk membalas pesan dan menjawab panggilan RF.

slot ||
slot88 ||
Server Thailand ||
Slot Gacor Maxwin ||
Slot gacor ||
slot online||
Slots ||
SBOBET||
game slot
daftar slot ||
slot game||
poker online
slot thailand||
game slot online||
situs slot||
slot gacor online||
situs slot terbaru||
slot terbaru||
idn slot||
slot gratis||
https://voiceofserbia.org||
https://tibetwrites.org/||