Nasib Atlet Pesepak Bola Asal Ende Diujung Cemas

Nasib pesepak bola asal ende yang kini tenar menjadi atlet berada diujung tanduk kecemasan. Dimana trofi demi trofi di menangkan dalam setiap laga iven pertandingan. Namun masa depan para atlet, enggan diperjuangkan Bupati Ende Djafar Achmad dan Wakil Bupati Ende Erikos Emanuel Rede maupun petinggi Koni dan Askap Ende pun turut melakukan pembiaran terhadap nasib atlet pesepak bola asal ende.

Terakam dalam catatan sejarah membuktikan, sejak era Anis Pake Pani, Gedo Wolo, Paulinus Domi, Don Wangge sampai era Marsel Djafar, soal nasib para atlet pesepak bola yang sempat hits dari zaman dulu hingga mileneal sekarang ini, enggan diperhatikan Pemerintah Kabupaten Ende.

Sementara, begitu banyak atlet pesepak bola yang pernah menorehkan keringat melalui kemampuan bermain bola di lapangan hijau oleh tim – teng Perse Ende dalam membawa nama besar Daerah Kabupaten Ende, tidak dihorgai oleh pengurus Koni dan pengurus Askab dan Pemerintah Daerah Kabupaten Ende, sendiri.

Meskipun demikian, tage line yang dinarasikan oleh Pemerintah Kabupaten Ende melalui dua jantung olahraga antar Koni dan Askap Ende betah berlindung dibalik alasan minor.

Alasan tersebut bahwa dalam setiap turnamen yang diselenggarakan mulai ETMC, Soeratin Cup dan Piala Bupati Ende diakui sebagai ajang penggalangan bibit – bibit atlet pesepak bola di kota serambi Pancasila.

Namun, alasan tersebut dinilai pubik hanya sekedar pemanis bibir (lips service) semata tanpa memikirkan masa depan dari nasib para atlet pesepak bola, setelah bermain di setiap turnamen apapun.

Bupati Djafar : Saya Bingung

Mengenai nasib atlet pesepak bola, Bupati Djafar Achmad dalam keterangan pers diruang rapat Kantor Bupati Ende, senin, 17 Oktober 2022, mengaku bahwa bingung, karena dirinya, masih memikirkan nasib mereka, para atlet.

“Soal nasib atlet. Saya juga bingun. Saya masih memikirkan hal ini. Apakah, diberikan modal usaha atau seperti apa kedepan. Kita masih pikirkan”, ujar Pak Djafar Achmad sembari mengerut jidatnya, saat menjawab pertanyaan Ritmeflores.com

Menurutnya, kalau mendorong para atlet pesepak bola untuk bekerja di kantor atau instansi pemerintah, namun undang – undang (UU) terbaru, sudah tidak memungkinkan lagi tenaga kontrak untuk bekerja di kantor Pemerintah.

“Sudah tidak bisa lagi untuk mempekerjakan mereka di instansi pemerintah. Karena regulasi tidak mungkin lagi. Tapi kalau kami, pemerintah dorong para atlet pesepak bola melalui usaha pasti bisa”, tukas Djafar Achmad

Sementara, hingga berita ditunkan, Ketua Koni dan Askap Ende belum sempat diwawancarai Ritmeflores.com. sudah whatsapp dan telepon beberapa kali, namun enggan untuk membalas pesan dan menjawab panggilan RF.

slot ||
slot88 ||
Server Thailand ||
Slot Gacor Maxwin ||
Slot gacor ||
slot online||
Slots ||
SBOBET||
game slot
daftar slot ||
slot game||
poker online
slot thailand||
game slot online||
situs slot||
slot gacor online||
situs slot terbaru||
slot terbaru||
idn slot||
slot gratis||
https://voiceofserbia.org||
https://tibetwrites.org/||