NEWS  

PENAKU UNTUK NEGERIKU (Episode-4)

Pembangunan Ketahanan Pangan dan Gizi
Bagian 4, Oleh Servas Mario Patty
(Kolumnis)

Rakyat Ende yang sangat saya cintai. Episode 4 kita mengupas tentang, “Pembangunan Ketahanan Pangan dan Gizi,” atau “The Development of Food and Nutrition Security.”

Pengupasan tentang Pembangunan Ketahanan Pangan dan Gizi membutuhkan konsentrasi menulis yang ekstra teliti agar para pembaca tidak gagal paham tentang pengertian “Ketahanan pangan” atau “food security.”

Sebagian besar masyarakat berpikir ketahanan pangan itu hanya produksi padi/beras, jagung, dan umbi-imbian.

Sesungguhnya tidak demikian. Untuk itu saya menyajikan tulisan yang lengkap tentang “Ketahanan Pangan dan Gizi” atau “Food and Nutrition Security.”

Indonesia umumnya atau NTT khususnya masih mengalami gizi buruk dan kekurangan pangan secara adil dan merata.. Untuk itu pemerintah melalui Dinas Pertanian melakukan berbagai upaya untuk mengatasi ketahanan pangan dan gizi melalui program-program yang tepat sasaran mulai dari pusat sampai ke desa-desa.

Harapan penyajian dalam episode 4 ini dapat membuka cara pandang yang benar tentang “Pembangunan Ketahanan Pangan dan Gizi.”

Ikutilah kupasan saya tentang “Pembangunan Ketahanan Pangan dan Gizi.”

Data yang saya peroleh, bahwasanya Tingkat Kelaparan Indonesia menurut Global Hunger Index (GHI) menempati urutan ketiga tertinggi di Asia Tenggara pada tahun 2021. Indonesia mendapatkan skor indeks sebesar 18 poin atau termasuk dalam level moderat. Skor ini telah berada di atas rata-rata global yang sebesar 17,9 poin. Sementara negara-negara dengan tingkat kelaparan tertinggi di wilayah Asia Tenggara adalah Timor Leste, yakni mencapai 32, 4 poin atau masuk dalam level serius.Laos berada di urutan berikutnya dengan skor 19,5 poin atau masuk level moderat. Negara dengan tingkat kelaparan terendah di Asia Tenggara adalah Thailand. Negara ini memiliki skor indeks kelaparan 11,7 poin atau masuk dalam kategori moderat. Negara terendah selanjutnya adalah Malaysia yang memiliki skor 12,8 poin atau masuk level moderat. GHI menggambarkan situasi kelaparan suatu negara yang berhubungan dengan kebutuhan dasar fisiologis manusia yaitu kebutuhan pangan nutrisi.

Skor indeks GHI didasarkan pada empat komponen yakni kondisi kurang gizi, anak yang kurus, stunting anak, dan kematian anak. Indeks di bawah 9.9 poin menunjukan kelaparan yang rendah, indeks 10-19,9 level moderat, dan Indeks 20-34,9 dalam level serius. Selanjutnya, indeks 35-49,9 dalam level mengkhawatirkan dan di atas 50 sangat mengkhawatirkan (Global Hunger Index atau GHI Negara Asia Tenggara, 2021).

Pentingnya Pembangunan Ketahanan Pangan dan Gizi secara Sistemik.

1. Masalah gizi di Indonesia sebagai outcome dari situasi ketahanan pangan dan gizi masih sangat serius. Kondisi ini dicirikan oleh tingginya prevalensi stunting (pendek dan sangat pendek pada anak di bawah dua tahun), kegemukan pada anak balita dan orang dewasa, defisiensi zat gizi mikro (Kurang vitamin A, anemia gizi besi dan gangguan akibat kekurangan yodium serta semakin meningkatnya prevalensi penyakit tidak menular (PTM) karna buruknya pola konsumsi pangan masyarakat.

Kedua, prevalensi masalah gizi dan PTM masih sangat tinggi. Kondisi ini terkait dengan persoalan-persoalan yang mendasarinya, masih relatif rendahnya kualitas (komposisi dan keamanan) pangan yang tersedia, keterbatasan akses pangan baik secara fisik maupun ekonomi karna terbatasnya daya beli, buruknya lingkungan fisik dan lingkungan (akses air bersih, higiene dan sanitasi lingkungan), pola asuh yang buruk sebagai akibat rendahnya pendidikan dan pengetahuan, dan keterbatasan akses layanan kesehatan. Oleh karena itu pembangunan ketahan pangan dan gizi pada tahun 2023-2029 harus menggunakan pendekatan sistem agar keterkaitan pembangunan lintas sektor dapat tercapai. (Badan Ketahanan Pangan Kementrian Pertanian, 2019).

Cara agar kebijakan pembangunan ketahanan pangan dan gizi dapat sinergis dan sistemik hingga ke tingkat Pemerintah Desa.

Pasal 5 ayat (4) Peraturan Presiden Nomor 104 tentang rincian Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara mengamanatkan bahwa dana Desa tahun anggaran 2020 dialokasikan untuk program ketahanan pangan dan hewani paling sedikit 20%. Dalam ketentuan yang lebih teknis, berdasarkan, pasal 34 ayat (2) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 190/MPK.07/2021tentang Pengelolaan Dana Desa, bahwa Pemerintah Desa melakukan penyesuaian kegiatan ketahanan pangan dan hewani sesuai dengan karakteristik dan potensi desa. Melalui peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Nomor 7 Tahun 2021 tentang Prioritas Penggunaan Dana Desa tahun 2022, bahwa prioritas Penggunaan Dana Desa dibagi dalam Dua (2) tipe.

Pertama, Prioritas Penggunaan Dana Desa diatur dan diurus oleh Desa berdasarkan kewenangan Desa, Pasal 5 ayat (1). Kedua, Prioritas Penggunaan Dana Desa diarahkan untuk program dan atau kegiatan percepatan pencapaian SDGs Desa Melallui:

1. Pemulihan ekonomi nasional sesuai kewenangan Desa.

2. Program Prioritas Nasional sesuai kewengan Desa, dan

3. Mitigasi dan penanganan bencana alam dan non alam sesuai dengan kewengan desa.

MENTERI DESA
Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi dalam peraturannya meletakan posisi kebijakan program yaitu penguatan ketahanan pangan nabati dan hewani untuk mewujudkan Desa tanpa kelaparan (SDGs Desa ke-2) dalam prioritas nasional sesuai kewengan Desa, pasal 6 ayat (2) huruf c, bukan pada kebijakan pemulihan ekonomi sesuai kewenangan Desa.Hal ini berarti bahwa kebijakan pemulihan ekonomi sangatlah urgen atau mendesak. Dengan kata lain, program ini diproyeksikan harus berdampak pada jangka pendek namun berkelanjutan. Ini bukan program jangka panjang program ketahanan pangan dan hewani untuk mewujudkan desa tanpa kelaparan atau mengentaskan Desa dari kelaparan. Earmarking minimal sebesar dana Desa tahun 2022 bukanlah program yang asal jadi namun harus memberikan kontribusi terutama penurunan angka stunting dan pencegahan kasus stunting di Desa.

Apa yang harus dilakukan oleh Pemerintah Desa

Apa yang harus dilakukan oleh Pemerintah Desa melalui program ketahanan pangan dan hewani.

Seperti yang diamanahkan dalam penjelasan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang pangan bahwa pemanfaatan pangan atau konsumsi pangan dan gizi akan menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas sebagai salah satu faktor penentu keberhasilan pembangunan nasional. Hal ini dilakukan melalui pemenuhan asupan Pangan yang beragam, bergizi seimbang serta pemenuhan persyaratan keamanan pangan, mutu pangan, dan gizi pangan. Ringkasnya asupan Pangan harus bergizi, beragam, seimbang, dan aman (B2SA).

Dalam implementasinya ada 3 aspek pokok yang harus diperhatikan:

1. Kesediaan pangan
2. Keterjangkauan, dan
3. Kemafaatan.

Ketersediaan pangan diarahkan untuk menciptakan sentra produksi dan peningkatan produktivitas serta distribusi penyediaan pangan lokal.

Keterjangkauan pangan diarahkan pada kemudahan masyarakat untuk mengakses pangan baik jarak maupun harga serta pemanfaatan pangan dicerminkan oleh konsumsi pangan perseorangan atau rumah tangga yang dipengaruhi oleh ketersediaan pangan, keterjangkauan pangan, pola konsumsi pangan, dan pengetahuan pangan dan gizi.

Kuantitas dan kualitas pangan yang dikonsumsi secara langsung akan menentukan status gizi atau nutrisi.

Secara teknis, beberapa hal yang bisa dilakukan di Desa antara lain:
1. Penyediaan sentra gizi bagi masyarakat:
– Penyediaan kebun gizi bagi masyarakat .
– Penyediaan sentra ikan dan / atau ternak bagi masyarakat.

2. Bantuan sarana produksi pertanian (SAPROTAN) dan peternakan bagi masyarakat berbasis kelompok berdasarkan kewilayahan ataupun karakteristiknya agar mereka dapat mengembangkan lahan pekarangan skala rumah tangga seperti; bantuan bibit, pupuk, pakan, dan obat menjadi rumah pangan lestari, atau Teknologi lain yang disebut lumbung dan warung hidup.

3. Penyediaan bantuan pangan atau penyediaan makanan tambahan (PMT) dan gizi bagi sasaran 1.000 HPK dan anak usia 2-6 tahun yaitu:
– Bagi ibu hamil kekurangan energi kronis (KEK).
– Bagi ibu menyusui dengan kondisi balita kurang gizi.
– Bagi balita kurang gizi.
– Bagi balita stunting yang diberikan secara berrkala dengan bantuan petugas kesehatan.
– Bagi balita kurang gizi.
– Bagi anak usia PAUD/TK.
– Berikut kondisi sanitasi dan air bersih juga harus diperhatikan.

Rakyat Ende yang sangat saya cintai. Episode 4 sampai di sini dulu. Kita akan berjumpa kembali pada Episode 5.

 

slot ||
slot88 ||
Server Thailand ||
Slot Gacor Maxwin ||
Slot gacor ||
slot online||
Slots ||
SBOBET||
game slot
daftar slot ||
slot game||
poker online
slot thailand||
game slot online||
situs slot||
slot gacor online||
situs slot terbaru||
slot terbaru||
idn slot||
slot gratis||
https://voiceofserbia.org||
https://tibetwrites.org/||