PENAKU UNTUK NEGERIKU (Episode 21)

PENAKU UNTUK NEGERIKU
Episode 21
Cara Menghentikan Korupsi
Oleh: Servas Mario Patty
(Kolumnis)

Rakyat Ende yang sangat saya cintai.

Episode 21 saya membahas tentang, “Cara Menghentikan Korupsi” atau ” How to Stop Corruption.”

Rasa-rasanya sangat sulit memberantas Korupsi di Indonesia. KPK dari hari ke hari terus menangkap Para Koruptor di Indonesia, namun Korupsi terus bertumbuh. Hal ini karena hukuman yang diberikan kepada para Koruptor tidak memberi efek jera. Keputusan Pengadilan Negeri Ende maupun Pengadilan Tinggi Kupang, NTT tidak memberi efek jera.

Ada banyak kasus Korupsi di Kabupaten Ende sangat sulit diproses hukum. Kasus-kasusnya mentok atau berhenti di Kepolisian dan di Kejaksaan Ende.

Salah satu Provinsi yang paling hebat di Indonesia adalah Provinsi Nusa Tenggara Timur. Yang paling hebat lagi adalah kabupaten Ende. Baik Eksekutif maupun Legiislatif sulit ditangkap oleh KPK padahal bukti-bukti sudah dibeberkan di medsos. Ini yang namanya aneh tetapi nyata.

Provinsi atau kabupaten yang sangat sulit ditangkap para pejabatnya yang melakukan Korupsi adalah kabupaten dengan julukan Kota Pancasila. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal:

1. Baik Eksekutif maupun Legislatif sangat kuat melakukan pendekatan dengan pihak yang berwajib. Alat bukti sudah ada, namun sangat sulit Para Koruptor ditangkap atau diproses secara hukum.

2. Adanya intervensi dari orang-orang yang berasal dari Partai besar serta kuat di DPP atau di Jakarta, sehingga pihak yang berwajib tidak berani mengungkapkan dan memproses kasus- kasus Korupsi di Ende.

3. Para Eksekutif dan Legislatif adalah orang- orang profesional yang sudah terbiasa bermain politik untuk menutupi kasus- kasus Korupsi atau pidana lainnya.

Tulisan saya pada Episode sebelumnya tentang Gurita Ende memang ada Gurita Ende. Ini kisah nyata ada Korupsi bagaikan Gurita di Ende yang menghancurkan kesejahteraan rakyatnya, namun Gurita Ende sangat alot untuk disantap.

Para Pastor, Pendeta atau Para Ustad, dan Imam Masjid terus berkotbah, namun Para Koruptor terus- menerus melakukan pencurian uang negara dan membagi uang hasil Korupsi kepada Pastor, Imam Masjid, Pendeta Protestan, Pendeta Hindu dan Budha.

Untuk iitu ada cara untuk mengatasi Korupsi di Kabupaten Ende:

1. Bupatinya harus bersih dari Korupsi. Bupati tidak boleh menerima fee dari para Kontraktor apa saja. Jangankan menerima fee, uang proyek sekian per cent, menerima Krans bunga saja tidak boleh.

2. Wakil Bupatinya juga harus bersih untuk tidak menerima fee proyek dari Kontraktor-Kontraktor. Bupati dan Wakil Bupati nya adalah satu paket, oleh karena itu kedua- duanya harus benar- benar bersih dari Korupsi.

3. SEKDAnya juga harus bersih karena sesungguhnya sarang Korupsi datangnya dari SEKDA. Tidak ada fee juga buat Sekda termasuk Krans bunga.

3. Semua Kepala Dinas bebas dari Korupsi. Jika Bupati/Wakil Bupati dan SEKDAnya bersih, maka semua Kepala Dinas akan bebas dari Korupsi.

Sesungguhnya jika Bupati dan Wakil Bupatinya bersih, maka Sekda dan semua Kepala Dinasnya akan bersih.

Untuk mewujudkan Misi dari EMAS yaitu Ende, Makmur, Adil, dan Sejahtera harus datangnya dari Bupati dan Wakil Bupati yang bersih dari Korupsi. Kolusi dan Nepotisme tidak dapat dihilangkan karena dua hal tersebut melekat dengan HUMAS Bupati dan Wakil Bupati. Yang tidak boleh adalah Kolusi dan Nepotisme yang berdampak kepada Korupsi.

Rakyat Ende yang sangat saya cintai.

Terima kasih Anda telah membaca Episode 21. Bagikan Episode 21 ini kepada sahabat-sahabat Anda atau WAG-WAG Anda agar kita bersama-sama dapat menghentikan Korupsi di Ende yang sudah menjadi GURITA Ende.

Jika Ende bebas dari Korupsi; maka Ende, Makmur, Adil, dan Sejahtera dapat terwujud sesuai Misi EMAS.

Wassalam,

EMAS

slot ||
slot88 ||
Server Thailand ||
Slot Gacor Maxwin ||
Slot gacor ||
slot online||
Slots ||
SBOBET||
game slot
daftar slot ||
slot game||
poker online
slot thailand||
game slot online||
situs slot||
slot gacor online||
situs slot terbaru||
slot terbaru||
idn slot||
slot gratis||
https://voiceofserbia.org||
https://tibetwrites.org/||